Click here for Kalimantan Climate Strike Press Release in English

Palangkaraya, Oktober 9 2019. Climate Strike, atau Jeda Untuk Iklim adalah aksi global yang dilaksanakan seluruh dunia. Jutaan anak-anak muda turun ke jalan dan “jeda” dari sekolah mereka karena sadar akan pentingnya krisis iklim untuk ditanggapi dengan serius oleh para pemimpin negara. Anak-anak yang seharusnya berada di dalam kelas saja rela mengorbankan waktunya untuk menyuarakan isu ini, mengapa para pemimpin yang memiliki wewenang tidak menganggap krisis iklim adalah hal yang serius untuk segera dituntaskan?

Partisipan termuda Kalimantan Climate Strike [Palangkaraya] adalah Noor Anisah yang masih berusia 7 tahun.

Partisipan termuda Kalimantan Climate Strike [Palangkaraya] adalah Noor Anisah yang masih berusia 7 tahun.

Kalimantan Climate Strike 20-27 September 2019. Delapan hari jeda untuk iklim, jeda dari ketidakpedulian, untuk menyuarakan keadaan darurat asap dan kebakaran hutan di Kalimantan. Setiap bagian pulau Kalimantan terbakar dengan total titik api sebanyak 30.000 titik per September 2019. Semua mengalami kesusahan yang sama karena kabut asap. Oleh karena itu, dalam 8 hari Kalimantan Climate Strike, 319 anak-anak muda di Palangkaraya, Ketapang, dan Pontianak bersatu menyuarakan Keadilan Iklim bagi Kalimantan: Selesaikan 22 tahun Karhutla Borneo!

Murid Sakolah Adat Arus Kualant melakukan  strike  dalam pakaian adat Dayak.

Murid Sakolah Adat Arus Kualant melakukan strike dalam pakaian adat Dayak.

Di Ketapang, sebuah desa di Kalimantan Barat (21 September), 28 anak-anak dari Sakolah Adat Arus Kualant turun ke jalan membawa poster-poster mereka, anak-anak penjaga tradisi suku asli Kalimantan melakukan strike menggunakan pakaian adat  Dayak lengkap. Di sekolah adat, anak-anak ini mendapatkan pendidikan tentang menjaga hutan karena sumber kehidupan yang ada didalamnya, dari kecil mereka sangat mengerti bahwa hutan ada untuk dijaga bukan dirusak. “Save our planet, our home is on fire!” seru mereka kepada seluruh dunia. Koordinator: Plorentina Dessy.

Anak muda Pontianak tetap turun untuk  climate strike  dalam kondisi kabut asap pekat.

Anak muda Pontianak tetap turun untuk climate strike dalam kondisi kabut asap pekat.

Di Pontianak, ibukota Kalimantan Barat (22 September), 46 pemuda pemudi Kalimantan turun ke jalan dalam long march, lengkap dengan atribut masker dan poster. Setelah long march dari Kampus STAKATN ke Tugu Digulist, dilanjutkan dengan silent action di depan orang-orang yang lalu lalang tanpa menggunakan masker apa pun. Situasi kabut asap di Pontianak juga parah dan bahkan pada saat aksi, satu orang peserta strike jatuh pingsan. Setelah situasi menjadi aman dan terkendali, teman-teman komunitas MaskerForUnity membagikan masker gratis kepada masyarakat kota Pontianak. Koordinator: Timotius Petrus.

Kalimantan Climate Strike [Palangkaraya] hari pertama.

Kalimantan Climate Strike [Palangkaraya] hari pertama.

Di Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah (20-27 September), Dalam waktu 8 hari strike, jumlah partisipan seluruh aksi adalah sebanyak 245 anak muda. Long march dalam kabut asap pekat dengan seruan “Bangun pagi-pagi menghirup asap pagi, hutan Kalimantan ku kebakaran lagi.” diserukan anak-anak muda dari berbagai kalangan; anak-anak sekolah (salah satunya dari PKBM-Candra Kirana), mahasiswa (UPR, IAIN, Muhammadiyah), komunitas, relawan pemadam kebakaran dari Tim KATUYUNG (Youth Act Kalimantan), TimCegahApi (Greenpeace Indonesia), Tim relawan WCD (World Clean-Up Day Kalteng). Setiap hari kami berjalan bersama menuju ISPU, alat informasi kualitas udara, yang menunjukan status udara yang kami hirup ada dalam level berbahaya bagi kesehatan. Bermodalkan megaphone, kami menghimbau para pengendara kendaraan yang lewat tentang keadaan Kalimantan yang darurat asap dan semua orang seharusnya menggunakan masker N95. Kami juga membagikan masker N95 gratis sembari memberi edukasi bahaya asap, kepada para pekerja konstruksi Bundaran Besar dan dermaga Sungai Kahayan, petugas kebersihan, pengendara kendaraan yang lewat, penduduk sekitar jembatan kahayan, serta polisi dan keamanan yang mengawal kami. Koordinator: Marsela Arnanda.

FINAL Kalimantan Climate Strike: Aksi terakhir - 27 September 2019.

Kalimantan Climate Strike [Palangkaraya] Hari ke-8

Kalimantan Climate Strike [Palangkaraya] Hari ke-8

Greta Thunberg masih berumur 16 tahun dan ia berani menghadap para pemimpin untuk menyampaikan ada yang salah dalam sistem pemerintahan yang selalu berbicara tentang uang dan mendambakan pertumbuhan ekonomi merata namun tidak menjunjung tinggi keadilan, nilai kemanusiaan serta merusak alam. Kami anak muda Kalimantan tidak sekedar ingin beraksi, kami juga memiliki solusi, yaitu agar pemerintah memberi keadilan iklim bagi Kalimantan! 50 anak muda Kalimantan berjalan ke depan kantor DPRD Kalimantan Tengah, kami kumandangkan lagu Indonesia Raya dan meminta mereka keluar dari kantor untuk menemui kami. Kami menyampaikan aspirasi langsung di depan ‘para wakil rakyat’ dengan pidato dan aksi teatrikal kami, menunjukan poster mempertanyakan #dimanaDPRD selama 22 tahun Karhutla ini terjadi dan menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi”. Kami meminta audiensi dengan DPRD agar dapat difasilitasi bertemu dengan Gubernur Kalimantan Tengah, Pak Sugianto Sabran.

22 tahun sudah Kalimantan terpapar asap, #dimanaDPRD?

22 tahun sudah Kalimantan terpapar asap, #dimanaDPRD?

Audiensi dengan DPRD - 3 dari 45 anggota DPRD Kalimantan Tengah mendengar tuntutan kami dan diskusi bersama kami selama 45 menit mengenai solusi yang dapat dilakukan oleh parlemen dalam pengendalian kebakaran hutan dan kabut asap. Kami menuntut kontribusi nyata dari DPRD dalam mewujudkan tuntutan-tuntutan kami. Ketiga anggota yang hadir menyatakan setuju dan kami dijanjikan untuk bertemu dengan Gubernur. Seusai audiensi, anggota DPRD hanya menyatakan setuju, belum menandatangani, dengan alasan nanti saja agar sekaligus saat bertemu dengan Gubernur.

Audiensi dengan Gubernur - Kami dijanjikan anggota DPRD pertemuan dengan Pak Sugianto Sabran di Kantor Gubernur Kalimantan Tengah pukul 1 siang. Kami datang tepat waktu dan dibuat menunggu dengan berbagai alasan selama lebih dari satu jam, di luar gedung dalam situasi berkabut asap. Setelah Gubernur datang kami diundang masuk ke dalam kantor, sesudah diskusi alot selama hampir 3 jam, Strike yang telah dilakukan sejak pukul 8 pagi hingga 5 sore memberikan HASIL bahwa anggota parlemen DPRD Kalteng dan Gubernur Kalteng MENYATAKAN akan memenuhi 3 tuntutan #ClimateJustice4Kalimantan (Keadilan Iklim bagi Kalimantan): Selesaikan 22 tahun Karhutla Borneo! Lembar persetujuan telah ditandangani oleh Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran.

Gubernur Kalimantan Tengah, perwakilan anggota DPRD, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng dan para anak muda Kalimantan Climate Strike saat audiensi di Kantor Gubernur.

Gubernur Kalimantan Tengah, perwakilan anggota DPRD, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng dan para anak muda Kalimantan Climate Strike saat audiensi di Kantor Gubernur.

Tahap selanjutnya - KAMI BERHASIL mendapat persetujuan dari eksekutif, namun perjuangan belum berakhir karena yang kami tuntut adalah AKSI NYATA bukan persetujuan mau pun janji. Pengawalan harus kami tetap lakukan. Ada pula langkah yang diberikan gubernur saat ini adalah memfasilitasi koordinasi dengan instansi terkait tiap poin tuntutan. Detail sebagai berikut:

1. Tindak tegas KORPORASI perusak lingkungan Kalimantan!

Anggota Kalimantan Climate Strike bertemu Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng pada hari Senin, 30 September pukul 14:00 untuk meminta data korporasi yang sudah terbukti menjadi tersangka kebakaran hutan Kalimantan yang telah merugikan banyak jiwa dan hilangnya ratusan ribu hektare hutan Kalimantan agar segera di publish nama-namanya dan diberi sanksi sebesar-besarnya. Kami bertemu dengan Pak Rawing Rambang, Kadis Perkebunan dan beliau memberikan pernyataan bahwa korporasi-korporasi yang diakui oleh Pak Sugianto Sabran, Gub. Kalteng telah mencabut izinnya tidak ada korelasinya dengan karhutla. Dinas Perkebunan tidak memiliki data korporasi yang menjadi tersangka kebakaran hutan, hanya memiliki daftar perusahaan perkebunan sawit - wewenang atas data tersangka ada di kepolisian.

2. Lindungi Pendidikan dan Kesehatan kami dengan menyediakan RUANG BEBAS ASAP di sekolah-sekolah.

Anggota Kalimantan Climate Strike bertemu perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng juga pada waktu yang sama,  Senin, 30 September pukul 14:00 dalam kunjungan ke Rumah Aman Asap kami yang telah diakui oleh UNICEF dan meminta kontribusi Dinkes untuk tahap selanjutnya dalam perwujudan Ruang Bebas Asap di sekolah-sekolah. Kami berkomunikasi dengan Pak Suyuti Syamsul, Kadis Kesehatan, yang menyatakan, “Kami juga sudah punya standar rumah singgah aman asap. Saya akui dari 199 rumah singgah se-Kalteng yang ada tidak semuanya sesuai standar.” Kami sedang dalam tahap menyamakan pemahaman bahwa ‘RUMAH OKSIGEN’ tidak sama dengan RUANG BEBAS ASAP yang kami tuntut. Beliau juga menyatakan untuk mewujudkan ruang bebas asap di ratusan sekolah di Kalimantan Tengah bukanlah perkara yang mudah, harus ada anggaran dan lain sebagainya. Belum ada inisiasi oleh Dinas Kesehatan untuk membuat paling tidak satu pilot project ruang bebas asap sesuai standar internasional di sekolah.

3. STOP mengkambinghitamkan peladang atau petani lokal!

Anggota Kalimantan Climate Strike bertemu Humas Polda Kalteng Selasa, 1 Oktober pukul 10:00 untuk meminta Humas Polda melakukan klarifikasi dan pernyataan maaf ke publik telah mempublish foto dan nama para tersangka mau pun dugaan tersangka kebakaran hutan individu atas dasar hak akan privasi dan penyebab stigma negatif terhadap masyarakat kecil (kebanyakan peladang atau petani lokal) sebagai penyebab utama kebakaran, menutupi fakta bahwa korporasi yang mengambil andil terbesar. Kami bertemu dengan Pak Hendra Rochmawan, Kabid Humas Polda Kalteng, yang memberi pernyataan bahwa publikasi tersangka mau pun dugaan tersangka karhutla adalah sesuatu yang harus dilakukan sebagai pemberian ‘efek jera’. Beliau memberikan kami data lengkap tersangka karhutla Kalteng per September 2019 (DATA GAKKUM KARHUTLA KALTENG). Dari data ini tertera lengkap asal dan profesi para tersangka - mayoritasnya bukan lah peladang lokal. Kabid Humas Polda Kalteng lalu memberikan video klarifikasi pernyataan bahwa bukan peladang atau petani lokal sebagai penyebab utama karhutla.

Pertemuan kembali dengan anggota DPRD.

Lembar Persetujuan Petisi Kalimantan Climate Strike dengan cap dan TTD Gubernur, tanpa tanda tangan para anggota DPRD.

Lembar Persetujuan Petisi Kalimantan Climate Strike dengan cap dan TTD Gubernur, tanpa tanda tangan para anggota DPRD.

Anggota Kalimantan Climate Strike dijanjikan bertemu semua anggota dari tiap 7 fraksi DPRD Kalimantan Tengah Senin, 30 September pukul 11:00. Sampai sekarang 10 slot tanda tangan untuk parlemen legislatif belum terisi satu pun. Tiga Anggota parlemen yang kami temui sebelumnya (Pak Muhajirin, Pak Sirajul, Pak Purman Jaya) menyatakan bahwa seluruh anggota parlemen sudah setuju namun lebih baik apabila semua fraksi memberi tandatangan persetujuan. Dalam hampir dua minggu ini, kami mengunjungi kantor DPRD berkali-kali untuk bertemu anggota dewan lainnya. Walau pun dalam pernyataan Pak Purman Jaya, Ketua Fraksi PKB, “sudah disampaikan dan semua menyatakan setuju di grup whatsapp”, tidak semua anggota dewan memahami isi petisi kami yang telah disetujui oleh Gubernur. Kami menjelaskan berulang-ulang kepada tiap anggota DPRD lainnya yaitu Pak Hendri Yosef, Ibu Rusita Irma, dan Wakil Ketua DPRD Pak Abdul Razak - semua menyatakan persetujuan secara lisan (yang terdokumentasi oleh kami), namun tidak ada hitam di atas putih, dengan alasan menunggu komisi yang berkaitan (Komisi B, untuk lingkungan) terbentuk.

Tugas kita selanjutnya adalah terus mengawal sampai tuntutan kita memiliki wujud nyata. Mari anak muda KALIMANTAN, kita bersama-sama kawal janji Gubernur dan DPRD Kalteng. Kawal terwujudnya Keadilan Iklim untuk Kalimantan!

Walau semua pertemuan kami dengan birokrasi terkait tidak memberikan hasil sesuai ekspektasi, kami tetap akan memperjuangkan keadilan iklim untuk Kalimantan. Status tanggap darurat karhutla Kalteng masih berjalan sampai 30 Oktober 2019, kami para anak muda Kalimantan Climate Strike tetap memperjuangkan pemulihan dampak kabut asap dengan cara kami: langsung bertindak dengan pemadaman api, distribusi masker ke daerah yang masih berkabut pekat, menyediakan pelayanan kesehatan gratis dan rumah aman asap, serta publikasi situasi sebenarnya di Kalimantan kepada media nasional dan internasional. 

Kami harap kemenangan yang diraih oleh Kalimantan Climate Strike [Palangkaraya] menjadi semangat pemacu teman-teman anak muda Kalimantan di provinsi lainnya, agar para gubernur, serta Presiden dan Menteri KLHK setuju untuk bersinergi dalam perwujudan keadilan iklim untuk seluruh Kalimantan karena bahwasanya seluruh Kalimantan sedang tidak baik-baik saja dan 22 tahun kebakaran hutan harus dihentikan!

TABE! Salam Isen Mulang!

(“Pantang Mundur” dalam bahasa Sangen, Dayak kuno)

KALIMANTAN CLIMATE STRIKE

Setiap pagi selama delapan hari kami melakukan  strike  dalam kabut asap pekat.

Setiap pagi selama delapan hari kami melakukan strike dalam kabut asap pekat.

Distribusi masker N95 gratis dilakukan seusai aksi.

Distribusi masker N95 gratis dilakukan seusai aksi.

Screen Shot 2019-10-10 at 08.17.22.png

Comment